Jumat, 14 Oktober 2011

Transplantasi Kornea

MATA MERAH YANG SERING DIANGGAP REMEH TERKADANG MERUPAKAN GEJALA ADANYA INFEKSI SERIUS YANG PERLU PENANGANAN LEBIH DARI OBAT TETES MATA BIASA. TIDAK TERTANGANINYA INFEKSI MATA SERIUS DAPAT MENGAKIBATKAN KERUSAKAN PADA BAGIAN KORNEA.

Mata Anda merah? Teteskan obat mata, pasti langsung sembuh. Demikian yang dipercaya masyarakat umum, apalagi ditambah dengan munculnya iklan obat tetes mata di berbagai media cetak atau elektronik.



Jarang orang mengetahui bahwa obat tetes mata yang dijual secara bebas umumnya hanya berfungsi mengatasi masalah ringan, seperti merah akibat terlalu lama berada di ruangan ber-AC atau terkena debu. Padahal mata merah sering menjadi gejala awal adanya infeksi pada mata. Tanpa penanganan yang benar, infeksi mata yang serius bisa mengakibatkan kerusakan pada bagian kornea.



Kornea, lapisan bening yang berada di bagian terluar dari bola mata, berperan menghasilkan penglihatan yang tajam tergantung dari kejernihan, kehalusan permukaan dan kelengkungannya. Jika kornea terluka, cepat atau lambat akan membuat penglihatan memburuk. Gangguan pada kornea ditandai dengan penglihatan buram, silau dan sangat peka terhadap cahaya, kornea terlihat keruh atau putih kekuningan. Mata tampak merah jika ada peradangan atau infeksi pada kornea.



Masalah kornea dapat terjadi karena faktor internal ataupun eksternal. Faktor internal dapat meliputi kelainan bawaan seperti keratokonus, yaitu kelainan akibat kelengkungan lapisan kornea yang abnormal, fuchs dystrophy dan granular dystrophy, yaitu kelainan bawaan pada lapisan stroma dan endotel kornea yang menyebabkan kekeruhan pada kornea sehingga terjadi gangguan penglihatan.



Faktor eksternal yang cukup sering mengakibatkan kerusakan kornea adalah luka trauma yang menyebabkan luka, misalnya karena kecelakaan ataupun benturan saat hard body contact atau karena pemakaian lensa kontak. Luka dapat terjadi karena kornea terinfeksi bakteri, jamur atau virus. Semakin parah keadaannya, semakin berat gangguan penglihatan yang terjadi. Infeksi akibat bakteri, jamur atau virus bahkan bisa membuat mata terlihat rusak hingga berlubang, sehingga penglihatan tidak lagi berfungsi dan sangat mengancam integritas bola mata.

Faktor lain yang dapat menyebabkan kerusakan kornea adalah komplikasi akibat tindakan bedah yang tergolong cukup sering terjadi. Contoh antara lain berupa timbulnya kekeruhan kornea setelah operasi katarak yang umumnya terjadi karena kerusakan lapisan endotel kornea akibat trauma saat operasi.

Transplantasi Kornea

Kerusakan kornea yang parah dapat berujung pada tidak berfungsinya indera penglihatan. Selama bagian selain kornea masih berfungsi baik, penglihatan masih dapat diselamatkan dengan cara transplantasi atau pencangkokan kornea, yaitu mengganti kornea yang rusak dengan kornea baru yang jernih.



Hingga saat ini belum ada teknologi yang dapat menciptakan kornea sintetis. Ketika dokter spesialis mata memutuskan bahwa pasien membutuhkan transplantasi dan pasien setuju, maka pihak rumah sakit akan mendaftarkan nama pasien kepada bank mata untuk antri mendapatkan donor kornea. Berkat kesadaran masyarakat luas untuk mendonorkan mata ke Bank Mata Indonesia, saat ini pasien di negara kita tidak lagi perlu lama menanti untuk mendapatkan donor kornea.



Kornea donor didapat dari pendonor yang telah menyatakan kesediaannya ketika masih hidup untuk diambil korneanya sesaat setelah meninggal. Guna mencegah infeksi penyakit menular, bank mata akan melakukan sejumlah tes terhadap donor untuk mengetahui ada atau tidaknya virus, terutama hepatitis, HIV, dan sifilis. Jika hasil pemeriksaan bebas dari infeksi tersebut, kornea dapat diambil dan kemudian digunakan untuk transplantasi ke pasien yang membutuhkan. Selanjutnya pasien akan menjalani sejumlah pemeriksaan mata dan laboratorium untuk persiapan transplantasi.



Operasi cangkok umumnya dilakukan dengan bius umum. Bius lokal hanya digunakan dalam situasi atau kasus tertentu. Dokter menggunakan spekulum untuk membuka lebar kelopak mata pasien selama operasi berlangsung. Dokter mengukur kornea mata pasien guna menentukan diameter kornea yang perlu dibuang, lalu mengukur diameter kornea donor untuk dipotong. Kemudian dokter menjahitkan kornea donor ke kornea pasien sebelumnya telah diangkat. Usai operasi dokter memberikan pelindung khusus mata.

Ragam Teknik Transplantasi

Tindakan transplantasi kornea terdiri atas dua macam. Yaitu, penetrating keratoplasty, yaitu tindakan mengganti seluruh (full thickness) lapisan kornea pasien dengan kornea donor. Kedua, lamellar keratoplasty, yaitu mengganti sebagian lapisan kornea pasien dengan kornea donor.



Lamellar keratoplasty terdiri dari dua klasifikasi, yaitu DALK (Deep Anterior Lamellar Keratoplasty) dan DSAEK (Descemet Stripping Automated Endothelial Keratoplasty). DALK adalah teknik transplantasi dengan cara mengganti bagian depan kornea (lapisan epitel dan stroma) dan tetap mempertahankan lapisan paling dalam (lapisan descemet dan endotel). Sedangkan DSAEK adalah teknik transplantasi terbaru, yaitu membuang lapisan paling belakang dari kornea (lapisan descemet dan endotel) yang sudah rusak dan menggantinya dengan lapisan baru yang sehat dari kornea pendonor.



Dulu penduduk Indonesia harus ke luar negeri untuk menjalani transplantasi dengan teknik DSAEK. Belakangan tindakan ini sudah dilaksanakan di Indonesia meskipun belum banyak rumah sakit yang menyediakannya.



Menurut dr. Made Susiyanti, SpM, Jakarta Eye Center telah mengerjakan operasi DSAEK sejak tahun 2008. Tingkat keberhasilan JEC dalam mengerjakan transplantasi kornea dengan metode-metode terkini memperlihatkan hasil yang memuaskan. JEC juga telah menjalin kerjasama dengan rumah sakit mata mancanegara sehingga menjadi rumah sakit mata rujukan untuk pemeriksaan lanjutan bagi pasien Indonesia yang telah menjalani transplantasi kornea di luar negeri.

Pasca Operasi

Berbeda dengan operasi katarak yang memungkinkan pasien langsung pulang, pasien transplantasi kornea perlu menjalani rawat inap. Tim dokter dan perawat melakukan observasi hingga pemeriksaan oleh dokter pada keesokan hari.Umumnya jahitan pada kornea secara bertahap diangkat setelah minimal enam bulan atau satu tahun sejak operasi, tergantung tingkat kepulihan mata.



Meskipun tidak sering ditemukan, penolakan (rejection) transplantasi kornea dapat terjadi sekitar 5-20 persen dari seluruh kasus transplantasi. Penolakan menyebabkan penglihatan buram dan kornea donor mengeruh. Selain itu, timbul rasa tidak nyaman atau sakit, sensitif terhadap cahaya, dan mata merah. Pasien harus segera berkonsultasi dengan dokter apabila merasakan keluhan agar dokter memberikan pengobatan yang tepat untuk mengurangi atau menghentikan reaksi penolakan.



Apabila transplantasi gagal karena terjadi penolakan atau ada infeksi, maka transplantasi dapat diulang kembali. Hasil bedah transplantasi yang kedua kali dapat memberikan hasil yang baik, namun tingkat penolakan kornea umumnya lebih tinggi dibandingkan yang pertama.



Kelainan pada mata bisa memperlambat perbaikan penglihatan namun masih dapat ditanggulangi. Misalnya kelengkungan yang kurang sempurna akibat jahitan pada kornea (astigmatism). Namun jika ada kelainan lain di bagian jaringan saraf mata, seperti diabetik retinopati dan glaukoma, maka kelainan itu dapat tetap membatasi penglihatan walaupun hasil operasi transplantasi telah berjalan baik. (eyeSight)